KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari merupakan dua tokoh pendiri dua organisasi  besar Islam di Indonesia. KH. Ahmad Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah dan KH. Hasyim Asy’ari sebagai pendiri Nahdlatul Ulama’ (NU). Mereka adalah saudara satu seperguruan, mereka sama-sama pernah berguru kepada KH. Sholeh Darat di Semarang (bahkan tinggal dalam satu kamar) dan Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi di Makkah
Sang Pencerah dan Sang Kiai adalah judul dua film yang masing-masing menceritakan perjuangan KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari, Sang Pencerah adalah judul film KH. Ahmad Dahlan dan Sang Kiai dalah film tentang perjuangan KH. Wahid Hasyim. Keduanya merupakan tokoh yang mempunyai andil besar dalam konsep pendidikan Islam di Indonesia. 

KH. Ahmad Dahlan
Beliau lahir di Yogyakarta pada tahun 1868 M (sumber lain mengatakan tahun 1869 M) dengan nama Muhammad Darwis. Beliau adalah putra Kiai Haji Abu Bakar bin Kiai Sulaiman bin Kiai Murtadla bin Kiai Ilyas bin Putra Demang Jurang Juru Kapimdo bin Juru Kapisan Bin Maulana Sulaiman Ki Ageng Gribig bin Maulana Muhammad Fadhullah (Prapen) bin bin Maulana Aunul Yaqin bin Maulana Ishaq bin Maulana Ibrahim. 
Beliau adalah seorang reformis dan pembaharu ajaran Islam di Indonesia. Menurut beliau, sistem pendidikan tradisional (pesantren) sudah tidak relevan bagi masyarakat Indonesia pada umumnya, dan bagi umat Islam khususnya. Oleh karena itu, beliau menawarkan sebuah konsep pendidikan baru dengan menggabungkan sistem pendidikan tradidional (pesantren) tersebut dengan sistem pendidikan modern yang dibawa Belanda. Namun, konsep pendidikan beliau ini tidak berjalan lurus begitu saja, beliau mendapatkan banyak pertentangan karena di anggap menyeleweng dari Islam dan menjadi bagian dari Belanda yang non-Islam itu oleh sebagian masyarakat dengan berdasarkan hadits: “Barang siapa yang mengikuti suatu kaum, berarti dia bagian dari kaum tersebut.” Namun KH. Ahmad Dahlan pantang mundur dan memaklumi bahwa hal tersebut sudah menjadi resiko menjadi seorang reformis. 
                Materi pendidikan yang diajarkan KH. Ahmad Dahlan meliputi pendidikan moral, pendidikan individu, dan pendidikan kemasyarakatan. Di dalam menyampaikan pelajaran agama, KH. Ahmad Dahlan tidak hanya menggunakan pendekatan tekstual, tetapi kontekstual juga. Menurut beliau, tujuan pendidikan adalah membentuk manusia yang alim dalam ilmu agama, berpandangan luas dengan dengan memiliki pengetahuan umum, dan siap berjuang, mengabdi untuk Muhammadiyah dengan menyantuni nilai-nilai keagamaan pada masyarakat. 
Sungguh besar jasa beliau terhadap pembaharuan konsep pendidikan di Indonesia ini. Beliau wafat pada umurnya yang ke 55 pada tanggal 23 Februari 1923 di kota kelahirannya, Kauman, Yogyakarta. “Semua ibadah diharamkan kecuali yang ada perintahnya dari Nabi Muhammad”, itulah ajaran utama dari K.H.
Ahmad Dahlan. Ajaran ini terus dipegang oleh anggota Muhammadiyah sampai sekarang. Demikianlah kisah K.H. Ahmad Dahlan dan aliran Muhammadiyahnya.

KH. Hasyim Asy’ari
                KH. Hasyim Asy’ari lahir di Desa Gedang, Jombang, Jawa Timur dengan nama Muhammad Hasyim Asy’ari ibn ‘Abd al-Wahid ibn ‘Abd al-Halim. Beliau menuangkan pemikirannya tentang pendidikan Islam dalam  kitab yang berjudul  Adab al-Alim wa al-Muta’allim fima yahtaj ila al-Muta’alim fi Ahwal al- Ta’allum wa ma Yataqaf Al-Mu’allim Fi Maqamat Ta’limah yang terdiri dari delapan poin dan dibagi menjadi tiga pokok bahasan, yaitu:
1.        signifikansi pendidikan,
2.        tugas dan tanggung jawab seorang murid,
3.        tugas dan tanggung jawab seorang guru
Pada tahun 1916 M beliau mengenalkan sistem madrasah di Tebu Ireng yang sebelumnya menggunakan sistem Sorogan dan Belandongan, dan kurikulum madrasah mulai ditambah mata pelajaran umum. Beliau juga memperkenalkan sistem musyawaroh dan diskusi kelas.
KH. Hasyim Asy’ari juga menekankan bahwa belajar bukanlah semata-mata hanya untuk menghilangkan kebodohan, namun untuk mencari ridho Allah yang mengantarkan manusia untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Karena itu hendaknya belajar diniatkan untuk mengembangkan dan melestarikan nilai-nilai Islam bukan hanya semata-mata menjadi perantara untuk mendapatkan matri yang berlimpah.   
Ajaran beliau memang kebanyakan meliputi etika dan akhlak karena masyarakat di daerah tersebut memang masih belum seberapa paham tentang baik dan buruk. Berbeda dengan KH. Ahmad Dahlan yang lebih menonjolkan pembahasan teologi karena pada saat itu estetika masyarakat Yogyakarta sudah bisa di bilang baik. 
            Diantara ajaran KH. Wahid Hasyim bagi seorang murid yaitu tidak boleh banyak memakan makanan yang bisa menyebabkan bodoh/lupa, misalnya makan ketumbar, apel masam, terong, dan kangkung. Beliau memang lebih menekankan pada pendidikan ruhani atau pendidikan jiwa, namun tidak menghilangkan pendidikan jasmani. Demikianlah ajran yang di bawa oleh KH. Wahid Hasyim. Jasa beliau patut di apresiasi.  
0 Responses

Posting Komentar