Membaca dan menulis mempunyai hubungan yang
saling berkaitan dan tak dapat dipisahkan. Menulis
tanpa membaca bagaikan orang buta, membaca tanpa menulis bagaikan orang pincang, begitulah Lasa HS mengibaratkan dalam bukunya. Untuk dapat menulis, sangat perlu kiranya untuk banyak membaca. Karena dengan banyak membaca, seseorang akan berpengetahuan luas dan akan
mudah menulis berbekal apa yang sudah dibaca. Dengan
kata lain, apa yang sudah diperoleh dari proses membaca
akan menjadi referensi bagi apa yang akan ditulis.
Terlepas dari itu, penguasaan kosakata seseorang juga bisa bertambah dengan
membaca.
Begitu juga sebaliknya, orang yang banyak membaca rasanya
belum lengkap jika belum menulis. Apa yang dibaca akan mudah hilang. Akal tidak akan mampu menampung semua
pengetahuan kita secara lengkap dan rinci. Pengetahuan tersebut akan luntur
seiring berjalannya waktu. Sebaliknya, apa
yang ditulis akan tetap abadi dan terkenang sampai penulisnya sudah meninggal
dunia sekalipun.
Jika membaca adalah proses membuka jendela
dunia, maka menulis adalah proses menyajikan kembali apa yang kita lihat dari
jendela dunia tersebut kepada orang lain sekaligus mengasah seberapa jauh kita
mampu mengingat dan memahami pengetahuan yang kita peroleh tersebut. Agar apa
yang sudah kita ketahui tidak berlalu begitu saja dalam ingatan, maka alangkah
sangat baiknya pengetahuan tersebut kita sajikan kembali dalam bentuk tulisan.
Menulis memang kelihatannya mudah. Namun, menulis tak semudah membalik telapak tangan. Tak semua orang bisa menulis. Menulis juga tak semudah berbicara Orang yang mahir berbicara sekalipun tak menjamin orang
tersebut dapat menulis. Banyak orang yang ingin bisa menulis, namun keinginan
tersebut tanpa disertai dengan praktek menulis yang akhirnya mereka tak pernah sampai
pada keinginan mereka.
Masyarakat
Indonesia memang masih kental dengan tradisi berbicaranya. Dibanding membaca,
kebanyakan orang lebih suka ngobrol kesana kemari. Itulah sebabnya, di
Indonesia ini presentase orang yang bergelut di dunia tulis menulis masih
minim. Padahal kemajuan suatu bangsa dapat dilihat dari seberapa banyak bangsa
tersebut memberikan kontribusi dalam dunia tulis menulis. Menulis memang
mempunyai banyak aturan dan kaidah tertentu, misal dalam hal sistematika
penulisan, dan pemilahan kata. Selain itu, untuk menghasilkan suatu karya
tulis, seseorang harus berbekal banyak membaca. Minimnya pengetahuan dan tidak
adanya keberanian untuk mulai menulis,
kiranya itu yang menyebabkan kebanyakan orang tidak menulis. Inilah hubungan yang
erat antara membaca dan menulis. (il ^_^)
Malang, Oktober 2013


Posting Komentar