Teringat dulu ketika adikku mengusir kucing yang ramai mengeong di ruang makan ketika kami sekeluarga sarapan, Ayah menegur adik dan menyuruhnya memberikan seekor ikan. Ibu melarang, khawatir kucing tersebut akan terbiasa setiap hari ke rumah dan mencuri persediaan ikan kami atau bahkan mengotori rumah kami. Spontan Ayah berkata: ”Siapa lagi yang akan memberi kucing-kucing ini makan. Andai mereka bisa bekerja, mereka tak akan mengemis pada kita. Namun nyatanya, mereka tidak mampu bekerja. Mereka hanya bisa mengeong meminta makan pada orang-orang baik. Dan bila mereka tidak menemukan orang-orang baik, mereka harus mencuri demi mempertahankan hidup. Dan siapa lagi orang-orang baik itu kalau bukan kita. Dari mana mereka makan kalau tidak ada orang yang mau menyisihkan sedikit saja rejeki untuk memberi mereka makan. Siapa lagi kalau bukan kita.”  

Aku merenungi perkataan Ayah. Ayah benar, kalau bukan kita siapa lagi yang akan memberi kucing-kucing itu makan. Mereka tidak mampu bekerja. Bagaimana mereka makan kalau tidak ada yang mau menyisihkan rejekinya walau hanya sedikit untuk mereka. Andai mereka bisa bekerja, mereka tidak akan mengemis kepada manusia. Mereka akan berusaha mencari  makan dengan keringat mereka sendiri, walau aku tau akan timbul kucing pengangguran, dan tidak menutup kemungkinan tetap ada kucing malas yang lebih memilih mengemis bahkan mencuri, tapi setidaknya ini akan mengurangi tingkat ketergantungan mereka pada manusia. 

Setelah kejadian itu, kami sekeluarga tidak enggan untuk memberi mereka makan, sekadarnya saja tapi. Ketika kami makan dan ada kucing, ya kami kasih. Tapi kalau sudah diberi masih mengeong minta makan terus, kalau sekiranya itu sudah cukup, kami tidak mau ngasih. Kami tidak mau mereka terlalu manja. Perkataan Ayah ini akan selalu ku ingat.
Label: edit post
0 Responses

Posting Komentar