Mood itu Diciptakan, Bukan Ditunggu

Buatlah sederhana saja
Tulis sesuatu yang besar
Sampaikan secara ringkas
Melukislah dengan ringkas:
“Malam. Badai. Gurun.”
Viki Viking

Seperti yang sudah sering saya dengar, untuk menjadi seorang penulis, menunggu mood memang bukan tindakan bijak. Kita harus terus berlatih membiasakan diri menulis, karena yang dibutuhkan memang bukan siapa yang pandai menulis, percuma saja jika ia tak menulis. Tapi yang terpenting adalah siapa yang mempunyai keinginan dan mau membiasakan diri menulis. 

Dan aku tau itu, bahkan aku sudah sering dan banyak mendapat siraman semangat untuk menulis semacam itu. Tapi, entah kenapa aku belum bisa melaksanakan pengetahuanku itu. Aku masih belum bisa membiasakan diri menulis. Aku hanya menulis menunggu mood itu tiba. 

Tak jarang, ketika mood itu datang, lantas tulisanku berhenti di tengah jalan bak sepeda yang bocor bannya sehingga tak bisa meneruskan perjalanan. Dan aku tak bisa memaksa, aku berhenti dan tak tau kapan akan melanjutkan perjalanan. Akupun hanya menyimpan tulisan setengah perjalanan itu dalam folder-folderku. 

Aku juga pernah mendengar dari dosenku yang seorang penulis, alangkah baiknya bagi seorang penulis itu mempunyai beberapa tema tulisan untuk di selesaikan. Hal ini menghindari kejenuhan menulis yang dipastikan akan membuat seseorang mogok menulis. Jika kita sedang tidak mood melanjutkan menulis tema yang satu, kita bisa meninggalkan semantara dan menulis tema lain, begitu seterusnya. Lagi-lagi ini masalah mood.  

Dan aku memang hanyalah seorang yang ingin bisa menulis tapi belum bisa membiasakan diri. Akupun menulis hanya tergantung mood, pun aku tahu itu bukan hal yang bijak. Memang benar kata mereka, mood itu diciptakan bukan ditunggu. Aku banyak belajar dari para senior ku yang telah memberikan siraman semangat untuk menulis. Terima kasih telah memberiku inspirasi.
                                                                                               
Label: edit post
0 Responses

Posting Komentar