Teringat dulu ketika adikku mengusir kucing yang ramai mengeong di ruang makan ketika kami sekeluarga sarapan, Ayah menegur adik dan menyuruhnya memberikan seekor ikan. Ibu melarang, khawatir kucing tersebut akan terbiasa setiap hari ke rumah dan mencuri persediaan ikan kami atau bahkan mengotori rumah kami. Spontan Ayah berkata: ”Siapa lagi yang akan memberi kucing-kucing ini makan. Andai mereka bisa bekerja, mereka tak akan mengemis pada kita. Namun nyatanya, mereka tidak mampu bekerja. Mereka hanya bisa mengeong meminta makan pada orang-orang baik. Dan bila mereka tidak menemukan orang-orang baik, mereka harus mencuri demi mempertahankan hidup. Dan siapa lagi orang-orang baik itu kalau bukan kita. Dari mana mereka makan kalau tidak ada orang yang mau menyisihkan sedikit saja rejeki untuk memberi mereka makan. Siapa lagi kalau bukan kita.”  

Aku merenungi perkataan Ayah. Ayah benar, kalau bukan kita siapa lagi yang akan memberi kucing-kucing itu makan. Mereka tidak mampu bekerja. Bagaimana mereka makan kalau tidak ada yang mau menyisihkan rejekinya walau hanya sedikit untuk mereka. Andai mereka bisa bekerja, mereka tidak akan mengemis kepada manusia. Mereka akan berusaha mencari  makan dengan keringat mereka sendiri, walau aku tau akan timbul kucing pengangguran, dan tidak menutup kemungkinan tetap ada kucing malas yang lebih memilih mengemis bahkan mencuri, tapi setidaknya ini akan mengurangi tingkat ketergantungan mereka pada manusia. 

Setelah kejadian itu, kami sekeluarga tidak enggan untuk memberi mereka makan, sekadarnya saja tapi. Ketika kami makan dan ada kucing, ya kami kasih. Tapi kalau sudah diberi masih mengeong minta makan terus, kalau sekiranya itu sudah cukup, kami tidak mau ngasih. Kami tidak mau mereka terlalu manja. Perkataan Ayah ini akan selalu ku ingat.

KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari merupakan dua tokoh pendiri dua organisasi  besar Islam di Indonesia. KH. Ahmad Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah dan KH. Hasyim Asy’ari sebagai pendiri Nahdlatul Ulama’ (NU). Mereka adalah saudara satu seperguruan, mereka sama-sama pernah berguru kepada KH. Sholeh Darat di Semarang (bahkan tinggal dalam satu kamar) dan Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi di Makkah
Sang Pencerah dan Sang Kiai adalah judul dua film yang masing-masing menceritakan perjuangan KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari, Sang Pencerah adalah judul film KH. Ahmad Dahlan dan Sang Kiai dalah film tentang perjuangan KH. Wahid Hasyim. Keduanya merupakan tokoh yang mempunyai andil besar dalam konsep pendidikan Islam di Indonesia. 

KH. Ahmad Dahlan
Beliau lahir di Yogyakarta pada tahun 1868 M (sumber lain mengatakan tahun 1869 M) dengan nama Muhammad Darwis. Beliau adalah putra Kiai Haji Abu Bakar bin Kiai Sulaiman bin Kiai Murtadla bin Kiai Ilyas bin Putra Demang Jurang Juru Kapimdo bin Juru Kapisan Bin Maulana Sulaiman Ki Ageng Gribig bin Maulana Muhammad Fadhullah (Prapen) bin bin Maulana Aunul Yaqin bin Maulana Ishaq bin Maulana Ibrahim. 
Beliau adalah seorang reformis dan pembaharu ajaran Islam di Indonesia. Menurut beliau, sistem pendidikan tradisional (pesantren) sudah tidak relevan bagi masyarakat Indonesia pada umumnya, dan bagi umat Islam khususnya. Oleh karena itu, beliau menawarkan sebuah konsep pendidikan baru dengan menggabungkan sistem pendidikan tradidional (pesantren) tersebut dengan sistem pendidikan modern yang dibawa Belanda. Namun, konsep pendidikan beliau ini tidak berjalan lurus begitu saja, beliau mendapatkan banyak pertentangan karena di anggap menyeleweng dari Islam dan menjadi bagian dari Belanda yang non-Islam itu oleh sebagian masyarakat dengan berdasarkan hadits: “Barang siapa yang mengikuti suatu kaum, berarti dia bagian dari kaum tersebut.” Namun KH. Ahmad Dahlan pantang mundur dan memaklumi bahwa hal tersebut sudah menjadi resiko menjadi seorang reformis. 
                Materi pendidikan yang diajarkan KH. Ahmad Dahlan meliputi pendidikan moral, pendidikan individu, dan pendidikan kemasyarakatan. Di dalam menyampaikan pelajaran agama, KH. Ahmad Dahlan tidak hanya menggunakan pendekatan tekstual, tetapi kontekstual juga. Menurut beliau, tujuan pendidikan adalah membentuk manusia yang alim dalam ilmu agama, berpandangan luas dengan dengan memiliki pengetahuan umum, dan siap berjuang, mengabdi untuk Muhammadiyah dengan menyantuni nilai-nilai keagamaan pada masyarakat. 
Sungguh besar jasa beliau terhadap pembaharuan konsep pendidikan di Indonesia ini. Beliau wafat pada umurnya yang ke 55 pada tanggal 23 Februari 1923 di kota kelahirannya, Kauman, Yogyakarta. “Semua ibadah diharamkan kecuali yang ada perintahnya dari Nabi Muhammad”, itulah ajaran utama dari K.H.
Ahmad Dahlan. Ajaran ini terus dipegang oleh anggota Muhammadiyah sampai sekarang. Demikianlah kisah K.H. Ahmad Dahlan dan aliran Muhammadiyahnya.

KH. Hasyim Asy’ari
                KH. Hasyim Asy’ari lahir di Desa Gedang, Jombang, Jawa Timur dengan nama Muhammad Hasyim Asy’ari ibn ‘Abd al-Wahid ibn ‘Abd al-Halim. Beliau menuangkan pemikirannya tentang pendidikan Islam dalam  kitab yang berjudul  Adab al-Alim wa al-Muta’allim fima yahtaj ila al-Muta’alim fi Ahwal al- Ta’allum wa ma Yataqaf Al-Mu’allim Fi Maqamat Ta’limah yang terdiri dari delapan poin dan dibagi menjadi tiga pokok bahasan, yaitu:
1.        signifikansi pendidikan,
2.        tugas dan tanggung jawab seorang murid,
3.        tugas dan tanggung jawab seorang guru
Pada tahun 1916 M beliau mengenalkan sistem madrasah di Tebu Ireng yang sebelumnya menggunakan sistem Sorogan dan Belandongan, dan kurikulum madrasah mulai ditambah mata pelajaran umum. Beliau juga memperkenalkan sistem musyawaroh dan diskusi kelas.
KH. Hasyim Asy’ari juga menekankan bahwa belajar bukanlah semata-mata hanya untuk menghilangkan kebodohan, namun untuk mencari ridho Allah yang mengantarkan manusia untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Karena itu hendaknya belajar diniatkan untuk mengembangkan dan melestarikan nilai-nilai Islam bukan hanya semata-mata menjadi perantara untuk mendapatkan matri yang berlimpah.   
Ajaran beliau memang kebanyakan meliputi etika dan akhlak karena masyarakat di daerah tersebut memang masih belum seberapa paham tentang baik dan buruk. Berbeda dengan KH. Ahmad Dahlan yang lebih menonjolkan pembahasan teologi karena pada saat itu estetika masyarakat Yogyakarta sudah bisa di bilang baik. 
            Diantara ajaran KH. Wahid Hasyim bagi seorang murid yaitu tidak boleh banyak memakan makanan yang bisa menyebabkan bodoh/lupa, misalnya makan ketumbar, apel masam, terong, dan kangkung. Beliau memang lebih menekankan pada pendidikan ruhani atau pendidikan jiwa, namun tidak menghilangkan pendidikan jasmani. Demikianlah ajran yang di bawa oleh KH. Wahid Hasyim. Jasa beliau patut di apresiasi.  

Mood itu Diciptakan, Bukan Ditunggu

Buatlah sederhana saja
Tulis sesuatu yang besar
Sampaikan secara ringkas
Melukislah dengan ringkas:
“Malam. Badai. Gurun.”
Viki Viking

Seperti yang sudah sering saya dengar, untuk menjadi seorang penulis, menunggu mood memang bukan tindakan bijak. Kita harus terus berlatih membiasakan diri menulis, karena yang dibutuhkan memang bukan siapa yang pandai menulis, percuma saja jika ia tak menulis. Tapi yang terpenting adalah siapa yang mempunyai keinginan dan mau membiasakan diri menulis. 

Dan aku tau itu, bahkan aku sudah sering dan banyak mendapat siraman semangat untuk menulis semacam itu. Tapi, entah kenapa aku belum bisa melaksanakan pengetahuanku itu. Aku masih belum bisa membiasakan diri menulis. Aku hanya menulis menunggu mood itu tiba. 

Tak jarang, ketika mood itu datang, lantas tulisanku berhenti di tengah jalan bak sepeda yang bocor bannya sehingga tak bisa meneruskan perjalanan. Dan aku tak bisa memaksa, aku berhenti dan tak tau kapan akan melanjutkan perjalanan. Akupun hanya menyimpan tulisan setengah perjalanan itu dalam folder-folderku. 

Aku juga pernah mendengar dari dosenku yang seorang penulis, alangkah baiknya bagi seorang penulis itu mempunyai beberapa tema tulisan untuk di selesaikan. Hal ini menghindari kejenuhan menulis yang dipastikan akan membuat seseorang mogok menulis. Jika kita sedang tidak mood melanjutkan menulis tema yang satu, kita bisa meninggalkan semantara dan menulis tema lain, begitu seterusnya. Lagi-lagi ini masalah mood.  

Dan aku memang hanyalah seorang yang ingin bisa menulis tapi belum bisa membiasakan diri. Akupun menulis hanya tergantung mood, pun aku tahu itu bukan hal yang bijak. Memang benar kata mereka, mood itu diciptakan bukan ditunggu. Aku banyak belajar dari para senior ku yang telah memberikan siraman semangat untuk menulis. Terima kasih telah memberiku inspirasi.