Terkadang kita mendambakan kehadiran sosok dengan berbagai kriteria yang kita inginkan sebagai pendamping kita kelak, sosok yang begini dan begitu dengan berjuta kebaikan yang kita uraikan. Kita hanya berdoa untuk mendapatkan orang baik, tanpa kita berpikir  “Sudahkah kita sendiri menjadi orang baik? Pantaskah kita mendapatkan pendamping hidup dengan berbagai kriteria yang kita ajukan itu? Pantaskah sosok yang demikian itu menjadi pendamping hidup orang seperti kita? Atau jangan-jangan sosok yang kita dambakan kehadirannya itu terlalu baik bagi kita?”

QS. An-Nur ayat 26 berbunyi:

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ أُولَئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ
Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga).

So, kita harus muhasabah diri kita dulu sebelum kita memimpikan kehadiran sosok seperti yang kita inginkan. Percayalah… jika kita bisa menjadi orang baik, Allah akan mengutus orang baik pula untuk kita, dan sebaliknya.  Siapakah orang baik itu? Ribuan jawaban akan terlontarkan tergantung yang mendefinisikan. Selamat menjadi orang baik, dan selamat menantikan kehadiran orang baik sebagai pendamping hidup Anda… :-)
“Muhammadkan dirimu agar Allah meng-Khodijahkan jodohmu….
Fatimahkan dirimu agar Allah meng-Ali kan kekasihmu….”
Hubbu An nabi


Cinta memang sulit didefinisikan. Saking luasnya pengertian cinta, tak jarang kata yang di pakai mewakili malah membatasi pengertian cinta itu sendiri. Selain luas, pengertiannya juga bervariasi tergantung siapa yang mendefinisikannya.
Konon ketika cinta pertama kali diciptakan, ia bertanya kepada alam semesta mengenai siapa dirinya yang sebenarnya. Ia bertanya kepada bumi yang ditinggalinya. “Cinta adalah hamparan tempat tumbuh segala jenis bahagia dan harapan. Ia memang diinjak dan dihinakan, tapi ia tak peduli. Cinta hanya berpikir untuk memberi, dan itu saja yang menjadi keinginannya.”, jawab bumi.
Cinta masih merasa belum puas, kemudian bertanya lagi kepada pepohonan. Pepohonan menjawab: ”Cinta adalah akar yang menopang segalanya. Ia tulus hingga tak perlu dilihat dan dikenal. Tapi ia terus memberi agar batang dapat terus bahagia dan tetap kokoh, berbuah, dan berbunga indah.”
Gunung kemudian menjawab: ”Cinta adalah rasa yang menjulang tinggi. Rasa itu demikian tenang dan menyejukkan. Namun saat ia gundah, ia akan meleburkan sekelilingnya dengan lautan larva cemburu yang membara.” Angin berhembus sembari turut menjawab: ”Cinta adalah hembusan yang menebar sayang tanpa tahu siapa tujuannya. Orang bilang ia buta. Ia tak terlihat, tetapi tanpanya segala raga akan hampa.”
Saat mendongak ke atas, langit menjawab: “Cinta adalah luasan tanpa batas. Luasnya tiada makhluk yang tahu. Kecuali bahwa cinta itu bahagia yang biru, atau derita kelam yang kelabu.” Bersamaan dengan itu, mataharipun menjawab: “Cinta adalah hidup untuk memberi energi kehidupan dan cahaya harapan. Ia tak akan lelah memberi sampai ia padam dan mati.”
Lalu manusia bertanya kepada cinta perihal siapa dirinya. Cinta menjawab: ”Aku adalah ketika engkau patuh terhadap-Nya, meski engkau tak melihat-Nya. Engkau tidak mencium atau meraba-Nya, tapi engkau patuh karena engkau merasa akan hadir-Nya. Sebab cinta bukan indera, melainkan rasa.”
”Cinta adalah engkau takut akan amarah-Nya, dan takut jika Ia meninggalkanmu. Lalu engkau mencari-cari alasan untuk selalu dekat dengan-Nya. Cinta adalah ketika engkau merasa kasih sayang yang tunggal yang tidak engkau berikan kepada yang lain selain kepada-Nya. Engkau rindu akan hadir-Nya dan melihat-Nya” (Serasa, bukan Serasi)
Itulah beberapa definisi cinta. Cinta memang tak dapat didefinisikan oleh satu penjelasan saja, tapi jangan sampai terperangkap dalam definisi yang salah. Selamat menemukan definisi lain. Selamat menemukan arti cinta yang sesungguhnya.... J
                                                                                                Malang, 11 Juni 2014 (ABA, 18:36)


Teringat dulu ketika adikku mengusir kucing yang ramai mengeong di ruang makan ketika kami sekeluarga sarapan, Ayah menegur adik dan menyuruhnya memberikan seekor ikan. Ibu melarang, khawatir kucing tersebut akan terbiasa setiap hari ke rumah dan mencuri persediaan ikan kami atau bahkan mengotori rumah kami. Spontan Ayah berkata: ”Siapa lagi yang akan memberi kucing-kucing ini makan. Andai mereka bisa bekerja, mereka tak akan mengemis pada kita. Namun nyatanya, mereka tidak mampu bekerja. Mereka hanya bisa mengeong meminta makan pada orang-orang baik. Dan bila mereka tidak menemukan orang-orang baik, mereka harus mencuri demi mempertahankan hidup. Dan siapa lagi orang-orang baik itu kalau bukan kita. Dari mana mereka makan kalau tidak ada orang yang mau menyisihkan sedikit saja rejeki untuk memberi mereka makan. Siapa lagi kalau bukan kita.”  

Aku merenungi perkataan Ayah. Ayah benar, kalau bukan kita siapa lagi yang akan memberi kucing-kucing itu makan. Mereka tidak mampu bekerja. Bagaimana mereka makan kalau tidak ada yang mau menyisihkan rejekinya walau hanya sedikit untuk mereka. Andai mereka bisa bekerja, mereka tidak akan mengemis kepada manusia. Mereka akan berusaha mencari  makan dengan keringat mereka sendiri, walau aku tau akan timbul kucing pengangguran, dan tidak menutup kemungkinan tetap ada kucing malas yang lebih memilih mengemis bahkan mencuri, tapi setidaknya ini akan mengurangi tingkat ketergantungan mereka pada manusia. 

Setelah kejadian itu, kami sekeluarga tidak enggan untuk memberi mereka makan, sekadarnya saja tapi. Ketika kami makan dan ada kucing, ya kami kasih. Tapi kalau sudah diberi masih mengeong minta makan terus, kalau sekiranya itu sudah cukup, kami tidak mau ngasih. Kami tidak mau mereka terlalu manja. Perkataan Ayah ini akan selalu ku ingat.

KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari merupakan dua tokoh pendiri dua organisasi  besar Islam di Indonesia. KH. Ahmad Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah dan KH. Hasyim Asy’ari sebagai pendiri Nahdlatul Ulama’ (NU). Mereka adalah saudara satu seperguruan, mereka sama-sama pernah berguru kepada KH. Sholeh Darat di Semarang (bahkan tinggal dalam satu kamar) dan Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi di Makkah
Sang Pencerah dan Sang Kiai adalah judul dua film yang masing-masing menceritakan perjuangan KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari, Sang Pencerah adalah judul film KH. Ahmad Dahlan dan Sang Kiai dalah film tentang perjuangan KH. Wahid Hasyim. Keduanya merupakan tokoh yang mempunyai andil besar dalam konsep pendidikan Islam di Indonesia. 

KH. Ahmad Dahlan
Beliau lahir di Yogyakarta pada tahun 1868 M (sumber lain mengatakan tahun 1869 M) dengan nama Muhammad Darwis. Beliau adalah putra Kiai Haji Abu Bakar bin Kiai Sulaiman bin Kiai Murtadla bin Kiai Ilyas bin Putra Demang Jurang Juru Kapimdo bin Juru Kapisan Bin Maulana Sulaiman Ki Ageng Gribig bin Maulana Muhammad Fadhullah (Prapen) bin bin Maulana Aunul Yaqin bin Maulana Ishaq bin Maulana Ibrahim. 
Beliau adalah seorang reformis dan pembaharu ajaran Islam di Indonesia. Menurut beliau, sistem pendidikan tradisional (pesantren) sudah tidak relevan bagi masyarakat Indonesia pada umumnya, dan bagi umat Islam khususnya. Oleh karena itu, beliau menawarkan sebuah konsep pendidikan baru dengan menggabungkan sistem pendidikan tradidional (pesantren) tersebut dengan sistem pendidikan modern yang dibawa Belanda. Namun, konsep pendidikan beliau ini tidak berjalan lurus begitu saja, beliau mendapatkan banyak pertentangan karena di anggap menyeleweng dari Islam dan menjadi bagian dari Belanda yang non-Islam itu oleh sebagian masyarakat dengan berdasarkan hadits: “Barang siapa yang mengikuti suatu kaum, berarti dia bagian dari kaum tersebut.” Namun KH. Ahmad Dahlan pantang mundur dan memaklumi bahwa hal tersebut sudah menjadi resiko menjadi seorang reformis. 
                Materi pendidikan yang diajarkan KH. Ahmad Dahlan meliputi pendidikan moral, pendidikan individu, dan pendidikan kemasyarakatan. Di dalam menyampaikan pelajaran agama, KH. Ahmad Dahlan tidak hanya menggunakan pendekatan tekstual, tetapi kontekstual juga. Menurut beliau, tujuan pendidikan adalah membentuk manusia yang alim dalam ilmu agama, berpandangan luas dengan dengan memiliki pengetahuan umum, dan siap berjuang, mengabdi untuk Muhammadiyah dengan menyantuni nilai-nilai keagamaan pada masyarakat. 
Sungguh besar jasa beliau terhadap pembaharuan konsep pendidikan di Indonesia ini. Beliau wafat pada umurnya yang ke 55 pada tanggal 23 Februari 1923 di kota kelahirannya, Kauman, Yogyakarta. “Semua ibadah diharamkan kecuali yang ada perintahnya dari Nabi Muhammad”, itulah ajaran utama dari K.H.
Ahmad Dahlan. Ajaran ini terus dipegang oleh anggota Muhammadiyah sampai sekarang. Demikianlah kisah K.H. Ahmad Dahlan dan aliran Muhammadiyahnya.

KH. Hasyim Asy’ari
                KH. Hasyim Asy’ari lahir di Desa Gedang, Jombang, Jawa Timur dengan nama Muhammad Hasyim Asy’ari ibn ‘Abd al-Wahid ibn ‘Abd al-Halim. Beliau menuangkan pemikirannya tentang pendidikan Islam dalam  kitab yang berjudul  Adab al-Alim wa al-Muta’allim fima yahtaj ila al-Muta’alim fi Ahwal al- Ta’allum wa ma Yataqaf Al-Mu’allim Fi Maqamat Ta’limah yang terdiri dari delapan poin dan dibagi menjadi tiga pokok bahasan, yaitu:
1.        signifikansi pendidikan,
2.        tugas dan tanggung jawab seorang murid,
3.        tugas dan tanggung jawab seorang guru
Pada tahun 1916 M beliau mengenalkan sistem madrasah di Tebu Ireng yang sebelumnya menggunakan sistem Sorogan dan Belandongan, dan kurikulum madrasah mulai ditambah mata pelajaran umum. Beliau juga memperkenalkan sistem musyawaroh dan diskusi kelas.
KH. Hasyim Asy’ari juga menekankan bahwa belajar bukanlah semata-mata hanya untuk menghilangkan kebodohan, namun untuk mencari ridho Allah yang mengantarkan manusia untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Karena itu hendaknya belajar diniatkan untuk mengembangkan dan melestarikan nilai-nilai Islam bukan hanya semata-mata menjadi perantara untuk mendapatkan matri yang berlimpah.   
Ajaran beliau memang kebanyakan meliputi etika dan akhlak karena masyarakat di daerah tersebut memang masih belum seberapa paham tentang baik dan buruk. Berbeda dengan KH. Ahmad Dahlan yang lebih menonjolkan pembahasan teologi karena pada saat itu estetika masyarakat Yogyakarta sudah bisa di bilang baik. 
            Diantara ajaran KH. Wahid Hasyim bagi seorang murid yaitu tidak boleh banyak memakan makanan yang bisa menyebabkan bodoh/lupa, misalnya makan ketumbar, apel masam, terong, dan kangkung. Beliau memang lebih menekankan pada pendidikan ruhani atau pendidikan jiwa, namun tidak menghilangkan pendidikan jasmani. Demikianlah ajran yang di bawa oleh KH. Wahid Hasyim. Jasa beliau patut di apresiasi.